Ilmu Hadis di Masyarakat 3T dan Tantangan Mahasiswa BEM UAD untuk Program EDM Berkelanjutan

Yogyakarta, Mengabdi di wilayah perbatasan Indonesia bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademis atau mengejar rekognisi Kuliah Kerja Nyata (KKN). Bagi Lucky Kusuma Dewi, mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis yang juga menjabat sebagai Bendahara Umum BEM, keberangkatan menuju Kepulauan Mentawai adalah panggilan nurani untuk mengamalkan prinsip “khairunnas anfauhum linnas” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Lewat wawancara mendalam, Lucky membagikan potret perjuangan, pengalaman mengajar, dinamika sosial-keagamaan, hingga catatan evaluasi berharga bagi organisasi mahasiswa di masa depan.
Alasan Pengabdian: Melampaui Rekognisi Akademis
Ketika ditanya mengenai motivasi utamanya bergabung dalam program ini di luar rekognisi KKN, Lucky menegaskan keinginan pribadinya untuk dapat berkontribusi langsung di wilayah terluar Indonesia.
“Sebenarnya dari aku pribadi pengin coba mengabdi di luar Pulau Jawa, terlebih di wilayah terluar Indonesia. Walaupun Mentawai secara data sudah dicabut dari status wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), kondisi riil di lapangan masih menunjukkan keterbatasan yang sangat signifikan,” ujar Lucky.
Prinsip hidup untuk menebar manfaat seluas-luasnya menjadi dorongan utama Lucky untuk melangkah keluar dari zona nyaman Pulau Jawa.

Dinamika Mahasiswa Ilmu Hadis: Mengajar di Sekolah Terpencil hingga Uma Adat
Sebagai mahasiswa prodi Ilmu Hadis, Lucky memegang peran sentral dalam lini pendidikan keagamaan. Ia ditempatkan mengajar di MTs Al-Muhtadin Muara Siberut, sebuah sekolah swasta di kawasan kepulauan terluar yang menghadapi keterbatasan fasilitas.
“Yang bikin kaget, di sana masih memakai buku LKS Kurikulum 2013 yang sudah usang dan seharunya tidak dipakai lagi. Karena sekolah swasta dan tidak tersentuh pendanaan, mereka hanya pakai modul seadanya. Di sana aku mengajarkan hadis-hadis dasar, akidah akhlak, hingga sedikit materi sains,” tuturnya.
Tak hanya di sekolah formal, kegiatan edukasi juga merambah ke pemukiman warga setiap sore. Berlokasi di Uma (rumah adat Suku Mentawai), Lucky dan tim membuka Rumah Belajar Anak Suku Mentawai untuk memberikan bimbingan belajar les tambahan matematika, bahasa Inggris, dan IPA bagi anak-anak tingkat sekolah dasar.
Kehidupan Multikultural dan Sentuhan Dakwah Keagamaan
Lingkungan tempat Lucky mengabdi memiliki lanskap sosial yang unik. Kehidupan bermasyarakat bersifat heterogen dan multikultural dengan mayoritas penduduk non-muslim.
Sebagai Penanggung Jawab (PJ) Multikultural, Lucky mengoordinasikan berbagai program keagamaan yang berkolaborasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat:
Pengajaran Rutin TPA & Tahsin: Dilaksanakan secara berkala untuk anak-anak dan remaja muslim di masjid setempat.
Pembinaan Mualaf: Setiap Ahad subuh, diadakan pendampingan khusus bagi warga yang menjadi mualaf (sebagian besar karena faktor pernikahan).
Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS): Membantu pelaksanaan program pembinaan rohani berkala di SMA Siberut Utara setiap hari Jumat genap.
Mengenai kesan masyarakat yang mengingatkan pada ajaran hadis, Lucky menyoroti sikap toleransi dan keterbukaan warga setempat saat menyambut pendatang, yang mencerminkan nilai-nilai kemuliaan akhlak dan penghormatan terhadap tamu.

Kepuasan Diri dan Evaluasi Manajerial BEM
Selain menjalankan peran edukasi dan keagamaan, Lucky bertugas mengawal tata kelola keuangan program sebagai Bendahara Umum BEM. Secara personal, ia merasa bersyukur dan puas dapat menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan dengan lancar di tengah keterbatasan. Namun, dari kacamata manajerial, ia memberikan catatan kritis terkait persiapan internal.
“Persiapannya masih sangat kurang. Tim EDM (Ekspedisi Duta Muda) rapat tidak sampai sebulan sebelum berangkat. Kami berangkat dengan kepastian dana dari pihak kemahasiswaan (Bimawa) yang belum jelas, sehingga pencarian dana (fundraising) kurang maksimal,” ungkapnya.
Rekomendasi untuk Periode BEM Selanjutnya
Menutup penjelasannya, Lucky memberikan arahan penting jika periode BEM U mendatang ingin melanjutkan program pengabdian serupa:
- Kejelasan Timeline Kerja: Timeline pendaftaran, tahapan seleksi, hingga kriteria peserta harus dirancang jauh-jauh hari secara transparan.
- Pemerataan Latar Belakang Prodi: Perekrutan relawan harus lebih menjangkau berbagai program studi secara merata agar variasi keilmuan yang dibawa ke daerah pengabdian semakin kaya (tidak mendominasi dari satu prodi tertentu saja).
Kepastian Pendanaan Sejak Dini: Penguatan alur komunikasi dengan birokrasi kampus dan mitra sponsor untuk menjamin kelancaran operasional di lapangan.






